Sebelumya mohon maaf jika judulnya agak nyeleneh. Hehehe. Tapi woles aja, silakan baca terus kalau mau. 
Mari kita simak percakapan berikut.
“Bro, pake ini aja, karya anak bangsa loh, asli citarasa Indonesia, logonya aja garuda, warnanya merah putih, keren banget dah.”
“Oh, gitu ya”.
Kurang lebih saya pernah mendengar percakapan seperti itu. Dalam hati saya berpikir, trus kalau karya anak bangsa kenapa? Apakah itu jaminan produk bagus?
“Tapi bro, itu apresiasi untuk Indonesia, dengan begitu Indonesia dikenal dunia”.
Bukan berarti saya tidak mengapresiasi karya anak Indonesia loh. Iya kalau produknya bagus, kalau tidak, bukannya malah mencemarkan nama Indonesia ya?.
Ketika kita membuat produk dengan tagline “Karya anak bangsa” akan muncul berbagai persepsi. “Karya anak bangsa? Males ah, pasti abal-abal”.
Alhasil produk Anda hanya akan jadi “just another karya anak bangsa” yang mana karena kualitasnya jelek, orang Indonesia sendiri akan malas memakainya.
Apakah Anda tidak pede dengan produk Anda, sehingga harus menonjolkan “karya anak bangsa” dengan harapan orang yang cinta Indonesia akan memakainya? Apakah tidak ada kelebihan-kelebihan lain yang perlu ditonjolkan selain karena itu buatan Indonesia? Coba berpikir lagi.
Lalu solusinya bagaimana?
Saran saya untuk produk startup atau produk-produk digital lainnya:
1. Bikinlah produk sebagus mungkin, walaupun belum bagus ya improvisasi terus sampai bagus.
2. Jangan membawa embel-embel Indonesia di produk Anda, apalagi tagline “Karya anak bangsa”
3. Biarkan orang tahu sendiri kalau itu karya Indonesia, tapi jangan kita sendiri yang menonjolkannya.
Niscaya orang akan berkomentar seperti ini.
“Wah, produk ini ternyata buatan Indonesia ya, keren”.
Jadi, ‘jual’ lah kualitas produknya, bukan tagline “karya anak bangsa” nya.
Pesan bang Napi, teruslah berkaya tanpa mengharapkan apresiasi. Apalagi di Indonesia ini, apresiasi nya adalah apresiasi semu. Misalnya nih, Anda membuat sebuah jejaring sosial “karya anak bangsa”, nah, orang-orang Indonesia yang overproud tentu akan heboh sekali, bahkan termasuk di media. Anda akan diarak keliling kampung, masuk berita, dipanggil mengikuti talkshow di televisi nasional. Sebenarnya itu sangat ‘mematikan’ karena Anda akan sudah merasa di puncak kesuksesan, dan ini bisa menghambat kreatifitas. 😀
Komentar (5)
Arsip Statis